Monday, September 10, 2012

silih asah, silih asih, silih asuh

Dan sebenarnya ego itu yang menghalang aku. Selamat hari raya. Maaf zahir dan batin. Ya, kamu.

Friday, August 3, 2012

seperti gila bayang-bayang

Lost in a dream 
In a dream of you 
All that’s left is a tear 
That I cried for you 

When you held me in your arms 
You made me feel just like a child 
Safe from all harm 

Once in love, now it’s gone 
And I stand alone 
There’s a place in my heart 
You still have a home 

And I’m holding onto dreams 
And the memories of you 
Haunting my soul 

Never again will I wake and see you smile 
Never again will I hold you 
Never again, no more planning for tomorrow 
Never again tells a story 

It seems so, so long ago 
When you held me near 
I can’t take all the pain 
It’s so hard to bear 

Still I’m holding onto dreams 
And the memories of you 
Haunting my soul 

Never again will I wake and see you smile 
Never again will I hold you 
Never again, no more planning for tomorrow 
Never again tells the story 

Never again 
Never again 
Never again 
Never again

(Loudness, 1991)

Thursday, July 19, 2012

bagaimana rupa begitu bayangnya

Pertama kali membaca naskhah Di Bawah Lindungan Kaabah, umur aku sepuluh tahun. Ya, masih anak. Ketika itu aku membayangkan aku mahu menjadi Hamid. Aku mahu petah berbicara, punya ilmu banyak tentang agama, punya cinta, percaya cinta.

Kemudian setelah aku tonton naskhah itu di layar perak, aku tahu aku tak mungkin menjadi Hamid itu. Tapi alangkah bertuah, andai dapat aku wariskan seorang Hamid buat penyambung amal di alam barzakh!



Mendengar tangis dalam deritamu
Merasa dusta di hari-harimu
Pada siapa air mata ini akan mengadu?

Friday, October 14, 2011

gajah seekor gembala dua

Dan sering, fitrah keserdahanaan ini yang dipersalahkan.

Dalam hati itu tak mungkin punya dua cinta, hanya satu, khusus buat Tuhan kamu. Andai ada cinta kamu pada lainnya, itu adalah cinta kamu padanya, tetap keranaNya.

Tuesday, September 6, 2011

iris

...

Aku kilaskan tangannya ke sisi dan aku kalihkan kepalanya jatuh dari pangku. Aku tampungkan leher jinjang dan betis bunting padinya, pertama pada kuda-kuda dan kemudian pada lengan aku.

Ah, Iris. Andai mampu aku talkinkan cinta, pasti lumat aku ceraikan juzuknya.

Aku rebahkan Iris di meja lukis. Aku kucup wajahnya berlama-lama antara hidung dan mata. Inilah hidung, inilah mata, seri dewi malam yang tercemar maruah, lemah rohani dan jasmaninya, berkerasan akalnya menghindar cinta.

Perlahan aku lurutkan jasadnya telanjang. Aku sisirkan ikal mayang rambutnya, aku silangkan tangannya ke dada. Aku mula selongkar tin-tin cat dan kemudian itu dengan segera aku mencampur warna. Kejur jemari aku mengepit berus dengan penuh taksub.

Kau pasti suka, Iris!

Akan aku lukiskan kembang teratai di sisi telingamu, meneduh koi yang mencumbu ulas bibirmu. Agar kau meyakini cinta, berahi yang bergenangan mendasari hati.

Akan aku lukiskan Seri Gumum, naga dari Chini itu, melingkar dari pundak lurut ke lurah susumu. Agar kau mendakap sejahtera, aman dipeluk maha cinta aku.

Akan aku lukiskan cangkerang lutsinar, moluskus dan krustasia, menggalas empuk pinggulmu. Agar kau menyirna ragu, lantas tetap letak dudukmu menerima aku.

Bancuhan rufi dan erimin yang aku mesrakan buatnya masih berbaki. Aku tautkan bibir aku tepat-tepat pada bibir gelas itu, mengangankan dirinya yang kelak aku sucikan segala keji dan cela. Besar hati aku dapat berkongsikan barbiturat yang menenteramkan aku selama ini.

Dan untuk aku rapikan terakhir kali, aku catkan merah tumitnya yang merekah, agar maujud perawan kakinya. Persis dewi kayangan menanti dipuspakan.

Aku mencintai kau separuh mati, Iris. Roh aku tidak lagi sudi mendiami jasad bisu ini, melainkan bersatu denganmu, mencegamu daripada lelaki-lelaki yang penuh khianat dan muslihat. Hanya dengan mematikan kamu, maka dapat aku sendiri mati seluruhnya.

Aku tekapkan plastik ke mukanya. Seberapa lama hinggakan ombak di dadanya semakin menyusut dan akhirnya pegun. Berimanlah kepada aku, Iris. Cinta adalah fatamorgama semata-mata. Hulurkan tanganmu, bukakan hatimu, bebaskan sengsara yang terpenjara di dalamnya.

Yang abadi itu hanya kau dan aku.